BUNGA DAN TEMBOK

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau hendaki tumbuh
Engkau lebih suka membangun
Rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang tak
Kau kehendaki adanya
Engkau lebih suka membangun
Jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga
Kami adalah bunga yang
Dirontokkan di bumi kami sendiri


Jika kami bunga
Engkau adalah tembok itu
Tapi di tubuh tembok itu
Telah kami sebar biji-biji
Suatu saat kami akan tumbuh bersama
Dengan keyakinan: engkau harus hancur!


Dalam keyakinan kami
Di manapun – tirani harus tumbang!

Advertisements

APA PENYEBAB LONGSOR SAAT HUJAN

Awal mulanya sebagian besar gunung dibentuk oleh batuan kemudian karena iklim dan POHON, batu berubah jadi tanah. Awalnya pohon berukuran kecil dan terus berusaha mencari nutrisi dari tanah lewat akar. Ujung ujung akar mengeluarkan enzim untuk melapukkan batuan. Proses pelapukan akan menyebabkan batuan terurai menjadi ukuran lebih kecil atau batu berubah menjadi tanah Lempung.

Seiring dengan berjalannya WAKTU, pohon bertambah besar, akarnya tambah panjang dan tanah lempungpun tambah tebal. Oleh karena letaknya di leremg gunung agar tanah tidak longsor akar serabut pohon memegang (mengikat) buturan tanah dan akar tunjangnya sebagai angker.

Bisa dibayangkan kalau pohon di gunung digunduli seperti foto di kover fb ku. Tanah gunung menjadi kritis, tinggal menunggu pemicu.

BENCANA DATANG BERUNTUN

Saat air hujan turun akan mengalir di permukaan tanah sambil mengerosi. Hujan terus berlangsung air permukaan semakin besar dan akan mengalir sebagai air banjir. Bila tanah di lereng semakin basah maka akan menambah berat tanah di lereng dan menurunkan kohesi (daya ikat) tanah di lereng, sehingga tanah akan longsor atau bahkan bisa mengalir sebagai banjir lumpur dan akan berubah menjadi bandang.

Pengetahuan ini sudah kita dapatkan sejak sekolah dasar. Semua orang tutup mata dan tutup telinga, masyarakat setempat terus saja membabati hutan untuk memperluas lahan agar bisa dipakai untuk pertanian dan permukiman. Pemerintah juga ikut andil, mereka lupa istilah ADA GULA ADA SEMUT, Pemerintah membuat kawasan wisata di pegunungan maka permukiman dan hotel hotel vila villa di sekeliling kawasan wisata bermunculan, hutanpun di babati untuk permukiman dan persawahan

MERDEKA NEGERI KU

Aku melihat , jiwa yang pincang ‘
Saling melayani ‘ dan menyugguhkan ‘ servis yang luar biasa’
Sang guide siap menghibur hati yang galau
Makan mlm di suguhkan ‘
Servis ala jugle biasa mereka suguhkan
Aku hanya bisa melihat dan memantau setiap pergerakan mereka ‘
Bak komando dengan kode bahasa tubuh
Malam trus larut ‘
Memoto ‘ dan truss mengisi kegitan – kegitan mereka , larut bersama malam .
Dalam hati q ” bertanya ???

[v] M3Reka PETARUNG
Mereka sangat berponsi sebagai guide yang baik
Dari sisi lain aku berkata , HAI KAU BANGSA
KAU AJARKAN KAMI SEBAGAI PELAYAN . Hanya demi bisa jalan-jalan dan cemp yang melepas penat kalian .
Sebegitu nya … tekanan dalam hidup kalian
Masih lebih merdeka kah RAKYAT mu.
Wahai INDONESIA.
MERDEKA …!!!
MERDEKA …!!!
M….3…D…3 …K …..AH !!!

@Explore_acehtamiang

@Indonesia indah

@andynomaden@gmail.com

KENDENG BERDUKA

Satu lagi petani dan pejuang lingkungan Pegunungan Kendeng berpulang. Semoga semua amal dan ibadahnya diterima di sisiNya

Pesan terakhir saat beliau mengikuti aksi Kendeng Nagih di depan Istana Negara tanggal 24 September 2018 yang bertepatan dengan memperingati Hari Tani; “Aku melu ning Jakarta iki kepingin ketemu Pak Jokowi, ben ndang ngerampungno masalah Kendeng”

dan saat berkomunikasi melalui telepon genggam , ia juga berpesan kepada suaminya “Mbah Petruk”; “Aku ojo mbok arep-arep mergo baliku urung mesti kapan…suwene ning Jakarta berjuang sampe menang…”

Mak Paisah juga salah satu petani perempuan yang terhitung aktif menyuarakan kelestarian lingkungan, seperti aksi Long March Kendeng Menjemput Keadilan, beliau juga ikut berjalan kaki dari Sukolilo, Pati – Semarang dan pada tanggal 17 November 2015 menjadi saksi dimenangkannya gugatan warga di PTUN SEMARANG atas SK Izin Lingkungan untuk PT SAHABAT Mulia Sakti (anak perusahaan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk) yang dikeluarkan oleh Bupati Pati pada tanggal 8 Desember 2014. Dimana rencana tapak pabriknya yang seluas 180 Ha di empat desa yaitu Desa Karangawen, Mojomulyo, Tambakromo hingga Desa Larangan dimana tempat beliau tinggal.

Mak Paisah meninggal karena mengidap penyakit kanker darah, semoga kepergian beliau menjadi penyemangat yang akan memperluas solidaritas kita dalam menyelamatkan Pegunungan Kendeng.

Perjuangan Terus Berlanjut!
Salam Kendeng, Lestari!

JM-PPK

#KendengBerduka
#MakPaisah
#KendengLestari
#TolakPabrikSemen

BISIKAN DARI RIMBA

Mengalun merdu tiupan bayu, membawakan pesan berbisik lirih
menyelinap lembut anak telinga, menggugah hati sanubari
rimbaku kebanggaan bangsa. menopang kehidupan mahluk semesta
dari si miskin di tepian sana, hingga sang kaya bertengger alam perkotaan
selimut hijau beruntai manikam. belantara rimba kini duka
salah siapa……. siapa yang salah.. cita duka….. bangkitkan cinta

lahanku teriris,,rimbaku tercabik.
pesonamu meredup diantara tangis satwa
bayu tetap semilir mengalunmembawakan simponi alam
membisikkan kata pujangga
esok……. dimana ku kan berpijak

GAJAH SEPTI TEMPATI RUMAH BARU

Gajah liar yang sudah lebih dari 5 tahun terisolasi di perkebunan warga di Desa Tangga Besi, Kecamatan Simpang Kiri, Kota Subulussalam, akhirnya berhasil ditranslokasi setelah 6 hari pelaksanaan kegiatan. Gajah betina berumur 20 tahun yang diberi nama Septi ini berhasil ditangkap menggunakan senjata bius pada hari Sabtu, 8 Desember 2018 yang lalu. Operasi ini sendiri melibatkan 35 personel gabungan dari BKSDA Aceh, Dinas LHK Aceh, KPH Wilayah 6, WCS, FKL, OIC dan didukung Direktorat KKH Direktorat Jenderal KSDAE, PKSL Unsyiah, Usaid Lestari serta BCCPGLE KFW. Selain itu, operasi juga melibatkan 5 ekor gajah jinak dari CRU DAS Peusangan, PKG Sare dan CRU Trumon.

Upaya translokasi gajah liar yang sudah direncanakan sejak 17 bulan yang lalu ini sempat beberapa kali tertunda karena ketiadaan akses ke lokasi pelepasliaran di hutan Bengkung, perbatasan Subulussalam dan Aceh Selatan serta Aceh Tenggara. Bahkan sempat muncul ide dari sebuah LSM luar negeri untuk memindahkan menggunakan hekikopter, namun urung dilaksanakan karena persoalan teknis. Namun harapan muncul dengan adanya pembukaan perkebunan PT ISP yang membuat akses ke Bengkung menjadi terbuka.

Setelah serangkaian rapat teknis, tim gabungan akhirnya memulai kegiatan translokasi pada hari Kamis 6 Desember 2018 yang lalu. Perlu waktu 3 hari hingga kemudian tim berhasil menembak bius gajah Septi. Gajah yang setengah terbius selanjutnya ditarik menggunakan gajah jinak menuju truk pengangkut pada Minggu subuh, dan selanjutnya diangkut ke batas perkebunan PT. ISP dengan hutan produksi. Pada minggu tengah malam, tim kemudian menarik gajah Septi menuju Hutan Lindung Bengkung yang berjarak sekitar 20 km. Upaya dilakukan tengah malam hingga pagi untuk menghindari sengatan matahari yang bisa membahayakan keselamatan gajah.

Akhirnya, pada hari Senin, 10 Desember 2018 sekira pukul 10.00, gajah sampai pada titik pelepasan yang direncanakan. Tim memasang GPS Collar untuk memonitor pergerakan Septi. GPS Collar yang dipasang akan mengirimkan data posisi gajah ke receiver BKSDA dan PKSL Unsyiah melalui satelit. Septi diharapkan dapat bergabung dengan kelompok gajah yang ada di Bengkung yang diperkirakan ada sekitar 10 ekor. Jika Septi bisa bergabung ke kelompok gajah Bengkung, akan sangat bagus untuk meningkatkan keragaman genetis kelompok gajah ini.

Pasca pelepasliaran, BKSDA Aceh bersama mitra akan menempatkan tim mitigasi yang bertugas merespon jika seandainya Septi bergerak kembali ke perkebunan.

Selain itu, didukung Forum Konservasi Leuser, KPH 6 dan PT. ISP, akan dibangun barrier berupa parit sepanjang lebih dari 5 km untuk mencegah Gajah Septi kembali ke perkebunan dan pemukiman warga. Semoga Septi betah di Bengkung, dan dapat bergabung dengan keluarga barunya.

#kemenlhk
#ksdae
#kkh
#bksdaaceh
#skwiisubulussalam
#dinaslhkaceh
#kph6
#fkl
#ptisp
#pkslunsyiah
#usaidlestari
#bccpglekfw
#programkerja
#kerjaberdampak
#faktadata
#pemerintahbekerja
#partisipasirakyat
#reformasibirokrasi
#kebijakanberdampak
#translokasi
#gajahsepti
#gajahsumatera
#gajah
#elephant
#elephasmaximussumatranus
#saveelephants