MENGUNGKAP SIMPUL PEMAIN

Bermula dari sirkus keliling, Yansen Manansang kini menjadi pebisnis suaka margasatwa ternama. Pria 77 tahun ini menekuni dunia satwa sejak dini bersama saudara kandungnya, Frans Manansang dan Tony Sumampau. Ayah mereka, Hadi Manansang, adalah kepala sirkus oriental pada 1965. Hingga 20 tahun kemudian, keluarga ini mendirikan Taman Safari Indonesia di Cisarua, Bogor, Jawa Barat dengan luas sekitar 200 hektar. Taman Safari Indonesia (TSI) Group kini mengelola lima lokasi.

Nama Taman Safari Indonesia muncul di tengah penyidikan jaringan perdagangan ilegal satwa dilindungi, Dicky Rusvinda dan Abdul Hopir, di Bandung, Januari lalu. Taman Safari diduga menyimpan satwa-satwa dilindungi milik Dicky. Hopir juga diduga pernah menjual kucing emas ke Taman Safari.

Kepada Tempo, Yansen membantah tuduhan itu. Semoga Bareskrim Polri bisa mengusut tuntas kasus perdagangan satwa yang melibatkan jaringan internasional ini. Kasus TSI tidak hanya berhenti kepada anak buahnya Imam Purwadi. Tapi juga menghukum pemilik atau pimpinan TSI jika memang terbukti mereka mengetahui transaksi illegal ini dan ikut menampung serta memutihkan satwa tersebut sehingga menjadi legal. Bongkar juga jika ada oknum KLHK yang ikut menikmati keuntungan dari permainan gelap tersebut.

Sejak beberapa tahun lalu saya mendengar dugaan perdagangan satwa liar di TSI ini. Tapi tidak mudah untuk membuktikannya. Akhirnya sekarang bisa terungkap. Jejak transaksi digital yang tersimpan di ponsel pintar tersangka dan bukti transfer uang sudah terlihat nyata. Mari kita kawal kasus ini secara bersama. Sehingga prosesnya transparan dan kita bisa saling belajar. Tujuannya hanya satu, kekayaan alam kita terutama satwa-satwa endemik kita tidak hilang dari hutan Indonesia apalagi punah gegara sekelompok orang serakah ini!

Sumber info grafis: Majalah Tempo 8/4/2019

kutipan fb : Een Irawan Putra

Advertisements

AYo NGABUBURIT

Beberapa hari lalu, Provinsi DIY diguyur hujan lebat berkepanjangan yang dikarenakan keberadaan siklon tropis savana di Samudera Hindia disebut memengaruhi intensitas hujan. Sebagai resikonya, ribuan orang terpaksa mengungsi akibat banjir yang menerjang sebagian wilayah ini.

Bencana alam sejatinya takkan lepas dari perlakuan buruk manusia atas alamnya. Lebih-lebih jika manusia tidak mematuhi aturan-aturan mengenai tata ruang yang ada.

Maraknya pembangunan di Yogyakarta sudah tentu akan menuai banyak resiko. Pembangunan hotel, apartemen dan beberapa infrastruktur lain yang tak miliki perhitungan mitigasi bencana bisa saja akan merenggut nyawa siapapun.

Bertolak dari hal tersebut, mengangkat diskurus tentang Banjir dan Carut Marutnya Tata Ruang di Yogyakarta menjadi penting. Untuk itu, kami mengajak kawan-kawan untuk bersama-sama merawat kesadaran dengan hadir pada:

*DISKUSI PUBLIK*

*Banjir dan Carut Marutnya Tata Ruang di Yogyakarta*

Narasumber:

1. Dr. Eko Teguh Paripurno – Koordinator Program Studi Magister Manajemen Bencana UPN “Veteran” Yogyakarta.

2. Dodok Putra Bangsa – Yogya Ora di Dol

Waktu:
*Senin, 25 Maret 2019*
15.00 WIB-selesai

Tempat:
*Kantor LBH Yogyakarta*
Jl. Benowo No 309, Winong, Prenggan, Kotagede

Narahubung:
Malik (082135325229)

REMBANG MENCARI KEADILAAN (TOLAK PABRIK SEMEN)

(JM-PPK)

Kapolres Rembang Menjanjikan Gelar Perkara Kasus Perusakan dan Pembakaran Mushola dan Tenda Perjuangan Warga Tolak Pabrik Semen Rembang Pada Awal April !

Rembang, 20 Maret 2019

Kamis, (21/2) 2 orang perwakilan warga (korban) dan 7 orang lawyer yang tergabung dalam tim advokasi keadilan kendeng mendatangi Polres Rembang untuk bertemu dengan Bapak Punky Santoso selaku KAPOLRES Rembang. Kedatangan kami dalam rangka menanyakan sejauh mana perkembangan kasus pembakaran dan perusakan mushola dan tenda perjuangan warga TOLAK pabrik semen rembang. Hampir 4 Jam kami menunggu giliran bertemu, akhirnya sekitar pukul 16:00 perwakilan 3 orang warga bertemu dengan Bapak Punky Santoso.

Pada kesempatan itu juga bapak Punky santoso menyampaikan:
Pertama, menjanjikan mengadakan gelar perkara yang melibatkan lawyer warga (korban). Kedua, gelar perkara tersebut akan dilaksanakan awal april. Dia juga menambahkan pada hari sabtu 22 Maret 2019 melaksanakan serah terima jabatan Satreskrim, seminggu setelah itu memepelajari kasus, kemudian baru mengagendakan untuk gelar perkara.

Perlu juga di ingat bahwa hari Senin Tanggal 11 Ferbruari 2019 sebelum bertemu dengan Bapak Punky Santoso, warga tolak pabrik semen Rembang beserta tim kuasa hukum TELAH melakukan aksi dan audiensi dengan POLRES Rembang beserta jajarannya untuk mencari kejelasan tentang perusakan dan pembakaran mushola dan tenda perjuangan kami. Pada audiensi tersebut POLRES Rembang dan Jajarannnya menyampaikan. Pertama, Polres Rembang akan mengagendakan gelar perkara kusus yang melibatkan lawyer warga (korban) paling lama minggu depan (terhitung sejak audiensi dilaksanakan). Kedua, Polres Rembang Menyatakan kesanggupan untuk mempercepat penyelesaian perkara ini. Namun gelar perkara kusus tersebut belum juga dilakukan sebagimana setelah audiensi dilaksanakan. Alasannya, penyidik Polres Rembang masih membutuhkan keterangan tambahan dari saksi-saksi korban.

Kami menilai, Polres Rembang lamban mengungkap siapa pelakunya dan hanya mengulur-ulur waktu serta tidak serius menyelesaikan kasus tersebut. Terlebih lagi hasil pertemuan dengan Bapak Punky Santoso, menguatkan bahwa Polres Rembang tidak serius menyelesiakan kasus tersebut sampai TUNTAS. Namun demikian, kami akan terus menagih janji penyelesaian kasus tersebut sampai TUNTAS! dengan penuh semangat.

Salam Kendeng ! Lestari !!!

Narahubung :
Ngatiban (0813 4847 9183)

MELAHIRKAN PENYELAMAT IBU BUMI

Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng
(JM-PPK)
“ NÊTÊSKE PATRIOT BUMI “
(Melahirkan Penyelamat Ibu Bumi)
Tembang Pangkur :

Jum’at Paing iku dina
Laire bayi Patmi kang temen tani
Nganti atotoh nyawa
Ngrungkebi pertiwi kang wis paring cukup
Lestari tansah dijaga
Ben anak putu marisi

21 Maret 2019, tepat 2 tahun berpulangnya Yu Patmi ke pangkuan Ibu Pertiwi. Kami para petani Kendeng yang tergabung dalam JM-PPK (Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng) berkumpul di Tugu Yu Patmi desa Larangan , Kec. Tambakromo,Kab. Pati untuk berdoa bersama bagi arwah beliau, memohon ampunan dan tempat yang layak disisi Tuhan Yang Maha Esa serta mengenang kembali jasa pengorbanan dan perjuangan Yu Patmi dalam menyelamatkan bumi Kendeng. Mengenang bukan untuk berduka, melainkan mengobarkan api semangat bagi kami yang saat ini masih terus berjuang meneruskan cita-cita Yu Patmi agar Pegunungan Kendeng tetap lestari.

Dalam peringatan 2 tahun berpulangnya Yu Patmi yang dihadiri oleh Prof. Sudharto P. Hadi, MES, Ph.D,
Dr. Hartuti Purnaweni, Kiai Budi Harjono, Romo Aloys Budi Purnomo, KINGMASMUS X MAGIXRIDDIM, YLBHI Semarang – PWYP Indonesia. Dalam kegiatan “ NÊTÊSKE PATRIOT BUMI “ ada beberapa rangkaian kegiatan yang kami selenggarakan.

Pertama adalah “ LAKU MENENG ” (membisu) dari anak-anak penerus penyelamat alam khususnya Peg. Kendeng. Dengan LAKU MENENG yang dimulai dari makam Yu Patmi hingga Tugu Yu Patmi, anak-anak yang akan mewarisi Ibu Bumi, hendak mengatakan jutaan kata kepada seluruh rakyat Indonesia, utamanya para pemimpin negeri ini, bahwa ibu bumi harus diselamatkan. Merah Putih lambang kecintaan yang tulus kepada negeri ini yang terpatri di dalam sanubari. Mereka tidak tergoyahkan oleh angkara murka yang terus menerus dipertontonkan oleh tangan-tangan serakah para pemodal dan pengambil kebijakkan di negeri ini. Begitu banyak bencana alam yang dialami rakyat tidak juga menggerakkan hati nurani para pemimpin untuk segera mengambil langkah serius bagi penyelamatan ibu bumi.

Bencana alam bukanlah kutukan, bukanlah hukuman karena Allah Yang Maha Rahim yang penuh cinta telah menganugerahkan karyaNYA yang agung kepada umatNYA yaitu bumi yang gemah ripah loh jinawi. Bencana alam merupakan tanda serius bahwa keserakahan manusia yang terus menerus “menyakiti” ibu Bumi harus dihentikan dan merekalah (anak-anak) yang akan menanggung akibatnya. Laku meneng adalah bentuk doa kepada Tuhan Yang Maha Esa yang tidak hanya sekedar “dilafalkan” tetapi dengan penuh iman yang dalam. Tidak boleh ada kata putus asa, demikian pesan yang disampaikan Lik Rosad (suami alm. Yu Patmi). Perjuangan harus mereka teruskan. Tunas-tunas pohon yang diberikan kepada mereka untuk ditanam sebagai bentuk harapan bagi kami para orang tua, bahwa perjuangan harus terus dilakukan oleh anak-anak. Yu Patmi telah gugur dalam perjuangannya, biji yang jatuh ke tanah akan berbuah, demikianlah harapan kami bahwa anak-anak adalah buah-buah itu yang akan terus menerus berjuang bagi kelestarian Peg. Kendeng.

Kedua, melangitkan doa bagi arwah Yu Patmi yang dipimpin oleh Kyai Budi Harjono. Sebagai makhluk ciptaan yang paling mulia, sudah selayaknya kami merendahkan diri di hadapanNYA, memohon ampunan bagi segala dosa dan kesalahan terisitimewa untuk almarhumah agar mendapatkan tempat yang layak disisiNYA. Selain itu, kami juga memohon kekuatan untuk terus melanjutkan perjuangan penyelamatan Peg. Kendeng. Perjuangan melawan angkara murka memang berat tetapi kami yakin sepenuhnya bahwa Allah bersama dengan kami. Jalan akan selalu terbuka bagi makhluk yang senantiasa nyenyuwun (memohon) kepadaNYA.

Ketiga adalah membahas Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) Kendeng bersama dengan para akademisi yang terlibat langsung dalam proses pembuatan KLHS ini yaitu Prof. Sudharto P Hadi,MES,Ph.D dan Dr.Hartuti Purnaweni. Telah kita ketahui bersama bahwa KLHS Kendeng adalah mandat langsung dari Pemimpin Tertinggi Negara. Dalam pertemuan JM-PPK dengan Presiden di Istana Negara Jakarta pada tanggal 2 Agustus 2016, KLHS atas Pegunungan Kendeng yang meliputi wilayah 2 Propinsi yaitu Jawa Timur (Kab. Lamongan, Kab. Bojonegoro, Kab. Tuban) serta Jawa Tengah (Kab. Rembang, Kab. Blora, Kab. Grobogan dan kab. Pati) telah selesai dilaksanakan dan rekomendasi juga telah diserahkan kepada Presiden. Tetapi, hingga hari ini negara, dalam hal ini pemerintah, masih abai. Sebagai rakyat yang terus-menerus mematuhi hukum, menjadikan hukum sebagai panglima tertinggi di negeri ini sesuai dengan falsafah hidup berbangsa dan bernegara yang selalu disuarakan oleh Presiden, tetapi pemerintah sendiri tidak menjalankannya.

KLHS yang harusnya menjadi pijakan utama bagi tindakan eksplorasi dan eksploitasi alam justru diabaikan. Selalu berlindung pada kalimat “investasi demi pembangunan”. Pembangunan untuk siapa??? Pembangunan yang seperti apa jika hasilnya justru menyengsarakam bagi rakyat yang amat bergantung pada kelestarian Peg. Kendeng. Eksploitasi di Peg. Kendeng berarti ancaman bagi ribuan sumber-sumber mata air abadi di dalamnya. Bergantung pada keutuhan ketersediaan air bukan hanya petani tetapi seluruh rakyat dan semua makhluk yang ada di dalam ekosistem Peg. Kendeng. Dengan luasan lahan 285 ha, kerugian yang akan diderita negara jika eksploitasi di Peg.Kendeng terus dilakukan , dalam valuasi ekonomi yang tercantum di dokumen KLHS Kendeng sebesar 3,2 Triliyun setiap tahunnya.

Kami memohon dengan sangat, agar Presiden RI segera mengambil kebijakkan yang menyeluruh sesuai dengan rekomendasi yang ada di dalam KLHS Kendeng demi keselamatan bersama. Demi terhindarnya negeri ini dari ancaman bencana ekologis yang besar di depan mata, serta demi masa depan anak cucu kita. Seperti Nusantara yang gemah ripah loh jinawi, negeri agraris dan maritim adalah JATI DIRI bangsa ini. Inilah warisan leluhur dan para pejuang pendiri bangsa yang harus terus kita jaga. Kita tidak ingin menjadi bangsa budak, bangsa yang bergantung pada belas kasih bangsa lain. Kemandirian bangsa harus dimulai dari kemandirian atas PANGAN. Kedaulatan pangan akan terwujud jika kebijakkan yang dibuat oleh pemerintah selalu berlandaskan pada jati diri bangsa sebagai negeri agraris dan maritim. Jika perintah Presiden saja diabaikan, kepada siapa lagi kami bisa mempercayakan suara kami ???

Salam Kendeng
Lestari !!!
Narahubung JM-PPK
Suparmi (0853 7512 3272 )
📷 JM-PPK

ACEH DARURAT KARST ( ? )

Beberapa hari ini hingga ke depan Badan Geologi (BG) dari Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI mengunjungi Aceh. Tujuannya untuk melakukan delineasi karst yang selanjutnya akan ditetapkan sebagai Kawasan Bentang Alam Karst (KBAK) di sejumlah wilayah diantaranya Kabupaten Pidie dan Aceh Tamiang.

Di Aceh Tamiang, kedatangan BG dengan membawa surat tebusan dari LSM KEMPRa yang pernah dilayangkan kepada Bupati Aceh Tamiang pada Tahun 2016 silam terkait usulan dilakukannya delineasi karst pada Formasi Batugamping Kaloy terutama pada Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) Eksplorasi batugamping milik PT TRIPA SEMEN ACEH (TSA).

Begitu pun di Kabupaten Pidie, kedatangan BG bermodalkan surat Bupati Pidie kepada Gubernur Aceh yang ditembuskan kepadanya perihal usulan penetapan KBAK Kabupaten Pidie.

Apakah ini pertanda ‘kemenangan’ bagi para pejuang karst, atau malah justru sebuah malapetaka?

Hajatan Delineasi Beraroma Semen

Awalnya, para pegiat lingkungan khususnya bidang speleologi di Aceh serasa mendapatkan angin segar ketika mengetahui kedatangan BG ke Aceh. Ada secercah harapan yang muncul, yaitu terselamatkannya Kawasan Karst dari incaran industri semen. Namun harapan itu justru menjadi tanda tanya besar, “kepada siapa sebenarnya BG bekerja?”

Keraguan ini mulai tampak dari beberapa prilaku, diantaranya : Pertama; dalam kegiatannya di Aceh Tamiang, BG terkesan menghindari pemaparan LSM KEMPRa yang menyatakan KBAK tidak hanya berada di wilayah Goa Sarang Burung (Goa Kubin) melainkan hampir di seluruh Formasi Batugamping Kaloy. Terutama pada WIUP Eksplorasi Batugamping milik PT TSA sehingga dipandang perlu untuk dilakukan penyelidikan KBAK lebih lanjut. Kedua; BG pasca-pertemuan dengan LSM KEMPRa memutuskan justru ‘HANYA’ memantau KBAK sekitar Goa Sarang Burung, tepatnya pada aliran Kuala Parek.

Padahal, di dalam dokumen AMDAL PT TSA, Goa Sarang Burung dan eksokarst sekitarnya telah berhasil dikeluarkan oleh LSM KEMPRa dalam WIUP Eksplorasinya melalui sidang Komisi Penilai AMDAL. Sehingga jika ‘HANYA’ membahas wilayah Goa Sarang Burung maka bukan membahas KBAK yang ada di Kaloy secara utuh, namun lebih kepada formalitas kunjungan BG.

Begitu pula di Pidie. Tanpa diketahui kapan dilakukannya verifikasi KBAK Pidie, mendadak muncul surat BG dengan ‘meminjamkan-tangan’ Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Aceh sebagai pengundang dalam acara Focus Group Discussion (FGD) KBAK Pidie pada Jumat, 31 Maret 2017. Masyarakat di Pidie terutama yang berdomisili di sekitar WIUP Produksi PT SEMEN INDONESIA ACEH bingung. Mereka (masyarakat -red) yang di undang dalam FGD mulai bertanya-tanya; apakah Karst itu? haruskah mereka ikut menghadiri FGD tersebut? dan sebagainya.

Hingga saat ini, penulis belum memiliki data lapangan berkaitan dengan Karst di Pidie (Semoga dapat waktu sebelum FGD dilakukan untuk menjadi bahan pembanding). Namun dalam kajian speleologi mengacu pada Peta Geologi Regional Lembar Banda Aceh Tahun 1981 (J D Bennet, dkk) tidak ditemukan adanya tanda-tanda depresi tertutup namun patut diduga adanya sejumlah drainase-drainase terputus sehingga di pandang perlu untuk dilakukannya peninjauan lapangan.

Berbagi pengalaman bersama sejumlah teman diketahui bahwa di pulau Jawa, batas KBAK berhimpit secara presisi dengan IUP semen yang belum keluar izinnya. Salahsatu contoh adalah KBAK Gombong yang berhimpit dengan IUP PT Semen Gombong dan KBAK Sukolilo yang berhimpit dengan IUP PT SMS. Kesimpulan dari pembicaraan itu adalah BG justru diduga menjadi ujung tombak pihak industri semen untuk penyelesaian sengketa karst.

Sumber : m.oki kurniawan .

#74 PELURU MEMBUNUH MU

Banda Aceh.

15 Maret 2019 Kepala Balai KSDA Aceh Sapto Aji Prabowo Berpartisipasi ikut serta dalam aksi damai terhadap satwa liar khususnya Orangutan Sumatera yang bertempat Bundaran Simpang 5 Banda Aceh.

Gerakan damai ini digelar oleh FORA dan Komunitas Hour Aceh. Tujuan dari aksi ini untuk mendesak pengusutan kasus penembakan Orangutan yang bernama HOPE, penertiban penggunaan senapan angin illegal dan penghentian kekerasan terhadap satwa.

‘Sebagai manusiawi stop kekerasan pada satwa liar, kita jaga bersama habitatnya dan melarang jika ada yang menembak dan melukai pada satwa liar’

menembak telah menjadi hoby bagi para pemburu dan berdampak kepada kecanduan untuk menghilangkan nyawa baik unggas maupun primata serta satwa yang di lindungi selain menjanjikan harga yang fantastis

Orang utan bukan hanya satwa namun bila kita memahami lebih dekat. Keberadaan orang utan dan satwa akan membawa kebaikan bagi manusia dan lingkungan sekitar

Orang utan bukan hama . Mereka juga punya hak hidup sama seperti manusia memiliki ruang dan hak hidup untuk meneruskan keturunan nya serta berkembang biak

#saveorangutansumatera

74 BUTIR PELURU MEMBUNUH INDUKAN ORANG UTAN

Evakuasi Orangutan Sumatera di Desa Bunga Tanjung
Kecamatan Sultan Daulat Kota Subulussalam
______________________________________________

Foto : YEL SOCP

Personil BKSDA Aceh Seksi Wilayah 2 Subulussalam bersama mitra WCS-IP dan OIC melakukan kegiatan evakuasi orangutan sumatera (Pongo abelii) di kebun warga tepatnya di Desa Bunga Tanjung Kecamatan Sultan Daulat Kota Subulussalam. Upaya evakuasiini bermula dari laporan Saudari Sanita menghubungi petugas BKSDA Aceh melalui telpon menyampaikan pengaduan tentang terjadinya konflik orangutan di Desa Bunga Tanjung Kecamatan Sultan Daulat Kota Subulussalam. Kemudian pada tanggal 9 Maret 2019 tim melakukan pengecekan ke lokasi dan dijumpai 1 (satu) ekor orangutan di pohon nangka serta sarang dan bekas makanan seperti pelepah daun sawit dan daun kelapa. Orangutan terisolasi di kebun sawit milik seorang warga. Menurut warga setempat orangutan tersebut dalam kondisi kurang sehat bahkan pengakuan anak-anak sekitar areal kejadian menyatakan orangutan tersebut sudah terkena alat dodos kelapa sawit bahkan anak orangutan tersebut sempat diambil dari induknya.

Selanjutnya pada hari Minggu tanggal 10 Maret 2019, Tim BKSDA Aceh bersama dengan personel WCS-IP dan HOCRU-OIC turun ke lokasi ditemukannya orangutan sumatera di Kecamatan Sultan Daulat dan berhasil mengevakuasi dua individu orangutan terdiri dari anak dan induknya, dengan melakukan pembiusan terhadap induk OU. Dari pemeriksaan awal di lapangan, diketahui bahwa induk Orangutan dalam kondisi terluka parah karena benda tajam pada tangan kanan, kaki kanan serta punggung. Selain itu didapati juga kedua mata induk OU terluka parah karena tembakan senapan angin. Sedangkan bayi OU yang berumur 1 bulan, dalam kondisi kekurangan nutrisi parah dan shock berat. Tim kemudian bergegas membawa kedua orangutan tersebut ke Pusat Karantina Orangutan di Sibolangit, Sumatera Utara, yang dikelola Yayasan Ekosistem Lestari (YEL) melalui Program Konservasi Orangutan Sumatera (SOCP), untuk dilakukan perawatan intensif. Namun dalam perjalanan anak orangutan mati diduga karena malnutrisi. Anak OU kemudian dikuburkan di Pusat Karantina Orangutan di Sibolangit Sumatera Utara.

Induk orangutan sumatera berusia sekitar 30 tahun tersebut selanjutnya diberi nama HOPE yang berarti “HARAPAN”, dengan harapan, Hope bisa pulih dan bisa mendapatkan kesempatan hidup yang lebih baik. Dari hasi pemeriksaan di Pusat Karantina Orangutan, Hope memiliki berat badan 35,68 Kg, kondisi rambut kusam dan kulit bersisik dengan status dehidrasi > 10 %. Bagian mulut terlihat bengkak banyak bekas luka dan memar, mata kanan terlihat bengkak sudah mengalami kerusakan permanen (bagian mata sudah mengecil dan berwarna putih susu) kemungkinan kerusakan terjadi lebih dari 2-3 bulan yang lalu. Mata kiri rusak, dengan pendarahan dibagian kornea dan pupil, diakibatkan tembakan 3 butir peluru senapan angin. Luka lebam di seluruh tubuh, terutama bagian kedua tangan, luka sayatan terbuka di beberapa bagian:
1. Tangan kanan dengan lebar luka 10 cm, tepi luka rata
2. Tangan kiri luka di bagian jari-jari dengan lebar luka 2-3 cm, tepi luka rata
3. Kaki kanan luka terbuka di bagian paha atas dengan lebar luka 10 cm, luka terlihat seperti luka sayatan benda tajam.
4. Telapak kaki kanan luka terbuka, yang mengakibatkan kerusakan di bagian tendon, dengan lebar luka 5 cm namun luka cukup dalam
5. Kaki kiri luka selebar 4 cm dengan kedalaman 1 cm di daerah ruas jari telunjuk.
6. Luka di bagian bahu kiri dengan lebar luka 1 cm, namun cukup dalam (dengan kedalaman lebih dari 10 cm mengenai tulang).
7. Hasil pemeriksaan dengan x-ray, ditemukan:
a. Peluru senapan angin sebanyak 74 butir yang tersebar di seluruh badan
b. Patah tulang Clavicula kiriter buka- dalam artian tulang mencuat keluar dari kulit.
c. Retak tulang pelvis kiri dengan keretakan kurang lebih 2 cm.

8. Kondisi OU Hope masih belum stabil sehingga masih akan berada di kandang treatment untuk mendapatkan perawatan intensive 24 jam.
Orangutan sumatera (Pongo abelii) merupakan salah satu jenis satwa liar yang dilindungi dari Kelompok Mamalia Primata Famili Hominidae berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.106/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Perubahan Kedua Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor : P.20/Menlhk/ Setjen/Kum.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar Yang Dilindungi, yang saat ini dalam ancaman kepunahan.

Kejadian di Subulussalam ini merupakan kejadian keempat penggunaan senapan angin untuk menyerang orangutan di wilayah Aceh, selama kurun waktu 2010 – 2014. Kejadian pertama di Aceh Tenggara, kedua di Aceh Selatan, ketiga di Aceh Timur dan terakhir di Subulussalam ini.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam Aceh mengecam keras tindakan biadab yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab yang menganiaya satwa liar yang dilindungi undang-undang yaitu orangutan sumatera (Pongo abelii) di Desa Bunga Tanjung Kecamatan Sultan Daulat Kota Subulussalam, sehingga orangutan terluka parah dengan 74 butir peluru senapan angin bersarang di tubuhnya, serta menyebabkan bayi orangutan mati karena kekurangan nutrisi dan shock berat.
BKSDA Aceh telah berkoordinasi dengan Direktorat Jenderal Penegakan Hukum LHK, melalui Balai Penegakan Hukum LHK Wilayah Sumatera, untuk mengusut tuntas kasus kematian bayi orangutan sumatera dan penganiayaan induknya, di Subulussalam ini. Balai Gakkum Wilayah Sumatera didukung BKSDA Aceh, berkomitmen untuk dapat mengungkap kasus ini. BKSDA juga akan berkoordinasi dengan Kapolda Aceh agar dapat dilakukan penertiban peredaran senapan angina illegal, karena dalam Peraturan Kapolri Nomor 8 Tahun 2012, penggunaan senapan angina hanya untuk olah raga dan harus diliput dengan ijin. Penyadartahuan masyarakat juga akan lebih massif dilakukan, dengan melibatkan tokoh masyarakat, perangkat desa, media massa serta media social, dan juga melibatkan aparat penegak hukum.

BKSDA Aceh mengucapkan terima kasih kepada seluruh mitra dan masyarakat yang membantu dalam evakuasi orangutan HOPE.

#kemenlhk
#ksdae
#bksdaaceh
#skw2subulussalam
#hope
#orangutan
#saveorangutan
#sumatranorangutan
#orangutansumatera